Buku SBY Terlalu Berat bagi Siswa SD

JAKARTA, KOMPAS.com — Ada delapan sekolah dasar di Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut, Jawa Barat, yang menerima dana alokasi khusus buku 2010, termasuk buku-buku tentang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Namun, sejumlah kepala sekolah menolak menandatangani berita acara penyerahan buku itu karena jumlah buku yang tertulis dalam daftar dengan yang ada dalam dus berbeda.

Apit Masduki dari Divisi Investigasi Garut Governance Watch (GGW), Selasa (1/2/2011), mengatakan, buku tersebut merupakan bagian dari dana alokasi khusus buku tahun 2010. Setelah dibaca, kata Apit, isi buku Yudhoyono itu terlalu berat bagi siswa SD.

"Isi buku itu antara lain tentang ekonomi makro dan mikro serta keberhasilan mengentaskan rakyat miskin. Jangankan anak SD, anak SMP saja kemungkinan akan sulit memahaminya," ujar Apit.

Kepala Sekolah Dasar Daya Susila Debijani Tedjalaksana menambahkan, buku-buku tentang Yudhoyono tidak akan dipajang di perpustakaan karena isinya tidak sesuai dengan kebutuhan siswa sekolah dasar.

"Tuh, bukunya masih belum dikeluarkan dari dus. Biar diperiksa dulu oleh aparat Kementerian Pendidikan Nasional," kata Debijani yang tidak memesan buku-buku tersebut.

Apit menambahkan, untuk mengejar kualitas pendidikan di Garut, pengadaan buku tentang sosok dan kiprah Yudhoyono kurang tepat.

"Lebih baik prioritaskan pengadaan buku-buku pelajaran karena di sini banyak masyarakat yang tidak mampu membeli buku pelajaran," ujarnya.

Di Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten, sejumlah sekolah juga menerima buku tentang Yudhoyono. Setiap sekolah mendapat empat judul buku dan dibagikan pada Januari lalu.

Ade Irawan, Koordinator Divisi Pelayanan Publik Indonesia Corruption Watch (ICW) di Jakarta, mengatakan, kasus dan motif pembagian buku-buku tentang Yudhoyono yang dibeli dengan dana alokasi khusus 2010 harus diusut tuntas. (ELN/ADH)