teori belajar

Teori didalam pembelajaran difungsikan sebagai tolak ukur menentukan kebijakan kegiatan belajar mengajar. Namun, teori yang ada tanpa adanya usaha pengaplikasiannya, akan hanya menjadi pajangan yang terkhusus wacana belaka. Teori dari para ahli tentang pembelajaran digunakan sesuai kondisi dan kebutuhan balansititas dengan jalannya pembelajaran. Transformasi ilmu pada jaman globalisasi jelaslah berbeda dengan pra-modernisasi. Dan yang menjadi permasalahannya, apakah teori yang sudah ada bisa menjawab keruetan pendidikan saat ini? Haruskah ada penetapan tradisi yang hanya mengacu pada cara lama? Ataukah harus ada penemuan teori baru? Mari kita lihat mulai dari Teori Behavioristik, Kognitif, Teori Konstruktivisme, Teori Humanistik dan bagaimana cara pengaplikasiannya dalam proses belajar mengajar.

Behavior yang mengacu pada tingkah laku dari pengalaman. Behavioristik lebih menekankan pada menyadari bahwa individu sebagai suatu kesatuan, yang pada dasarnya memiliki potensi kreatif dan tergantung pada kondisi psikologis. Usaha menggunakan Teori Behavioristik dalam pembelajaran tidak hanya “ memberi ilmu “ dalam arti harfiah, tetapi dalam proses pentransferan ilmu yang disertai pemberian stimulus untuk mendapatkan respon dari siswa. Dengan kata lain pokok bahasan pada Teori Behavioristik yaitu stimulus dan respon. Contohnya, pembelajaran yang dimulai dengan doa. Guru masuk dan menyapa (stimulus diberikan), siswa secara otomatis akan merespon dengan menjawab sapaan dan bergegas menyiapkan posisi untuk berdoa sebagai awal responsible siswa.

Selain itu terdapat asumsi menurut Engkoswara tentang dasar hakikat manusia dalam teori ini yaitu Kebebasan-ketidakbebasan, yang dimaksudkan pandangan pribadi, dimana bebas dan tidaknya individu dalam kelompok untuk bertindak. Dipengaruhi oleh keadaan psikologis diri dan dari luar sosial budaya masyarakat. Berikutnya Rasional-irasional. Dalam Teori Behavioristik mengembangkan rasionalisme pribadi sebagai makhluk yang berakal. Rasionalisasi dipacu sebagai bentuk kebutuhan naluri dan bukan sebagai kepribadian yang psikoanalisa (irasional). Holisme-Elementalism dapat dilihat dari potensi yang ada dalam diri manusia. Holism lebih pada keseluruhan pemahaman masalah yang bersifat umum, sedangkan Elementalism melihat sesuatu dari segi parsial atau khusus. Yamg terakhir adalah Konstitusional-Enviromentalism lebih mengacu pada faktor pencapaian belajar. Konstitusional lebih melihat keberhasilan karena adanya potensi bawaan sedangkan Enviromentalism dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan.

Pengaplikasian Teori Behavioristik dalam pembelajaran yaitu menekankan stimulus respon. Keberhasilan belajar menurut teori ini ditentukan oleh interaksi antara guru dengan siswa dan seberapa besar respon yang didapat dari pemberian stimulus. Sedangkan keberhasilan ini ditandai dengan perubahan tingkah laku secara konkret di dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak lagi hanya dilihat dari perspektif intelektualnya saja.

Menurut Teori Kognitif pembelajaran yaitu merupakan proses pengetahuan (tahu), berlanjut pada memahami (paham), penerapan (terapan), yang sudah menjalani analisis, pemikiran atau penarikan kesimpulan (sintesis) dan berpotensi tidaknya dilihat dari evaluasi (uji).

Teori Kognitif lebih menekankan upaya pengoptimalan kemampuan (rasional) dalam mewujudkan perilaku menanggapi respon. Berbeda dengan Teori Behavioristik yang mengacu pada stimulus dan respon, kognitif lebih pada usaha menunjukan pemenuhan stimulus dengan respon. Dengan kata lain behaviorisme pada stimulus dan respon, kognitif pada usaha merespon stimulus.

Teori kognitif apabila diaplikasikan dalam pembelajaran cenderung melakukan praktek yang mengarahkan pada kualitas intelektual peserta didik. Positifnya penggunaan teori ini adalah kecerdasan peserta didik yang dimulai dari pembentukan kualitas intelektual (kognitif).

Secara umum proses pembelajaran harus didasarkan pada universal yaitu pada proses pembelajaran sebagai suatu realitas sistem. Keberhasilan belajar tidak hanya ditentukan oleh suatu faktor tetapi berbagai faktor yang saling berhubungan. Yang kedua adalah proses pembelajaran sebagai realitas natural. Kebutuhan dalam membuat kehidupan yang lebih layak, salah satu proses yang ditempuh adalah menuntut ilmu. Ketiga, proses pembelajaran dilakukan secara kontekstual dan relevan dengan realitas kehidupan peserta didik. Tidak harus dalam format tetapi mengenal dengan pengembangan analisis juga bisa dilakukan. Berikutnya pembelajaran tidak dilakukan secara monoton, kreativitas dituntut sebagai modal mutlak dalam proses pembelajaran. Kelima, keterlibatan siswa diharapkan aktif, maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan serta pengalaman berjalan baik. Proses memaknai lebih dibanding proses menghafal. Yang terakhir proses belajar mengajar harus memperhatikan perbedaan individu.

Teori Konstruktivisme menekankan pada proses membangun pengetahuan melalui pengalaman nyata dari lapangan. Dengan kata lain siswa lebih cepat menangkap informasi atas dasar realitas yang ada di dalam masyarakat. Sebagai contoh guru mengajarkan sub bab puisi. Bukan lagi guru hanya mendikte siswa untuk menulis sifat-sifat instrinsik puisi, tetapi siswa diajak mempunyai pengalaman membuat puisi.

Peran guru sebagai fasilitator yang merupakan satu-satunya sumber belajar sedangkan murid dituntut aktif, kreatif dan kritis. Siswa diberikan area luas untuk berpeluang mengemukakan ide serta gagasannya tidak dengan otorientasi guru. Media yang dimanfaatkan dalam proses pembelajaran menurut Teori Konstruktivisme sangatlah membantu pemahaman siswa. Dengan sarana tersebut siswa akan berlatih memecahkan masalahnya sendiri, mandiri, kritis, kreatif dan bertanggung jawab dengan pemikirannya yang rasional.

Bila dibandingkan dengan pembelajaran tradisional, pembelajaran teori ini lebih pada penyajian secara keseluruhan menjadi bagian-bagian. Lebih memberikan kebebasan siswa untuk mengemukakan ide dan gagasan. Lebih banyak dikaitkan pada realitas masyarakat serta menyadari potensi siswa dalam mengembangkan materi pelajaran.

Sedangkan teori yang terakhir adalah Humanistik. Teori Humanistik menjelaskan bahwa proses belajar harus dimulai dari kepentingan memanusiakan manusia. Humanistik lebih bersifat penekanan pada bagaimana memahami persoalan manusia dari latar belakang, kognitif, affektif dan psikomotor.

Teori Humanistik menyadari bahwa peserta didik merupakan manusia yang bisa berfikir, melakukan sesuatu jika ada kemauan, serta memiliki rasa dan potensi. Pikiran mereka bisa dikendalikan tetapi terlalu picik jika dikekang. Secara pengaplikasiannya pada pembelajaran yaitu dengan cara menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, menggairahkan, bebas namun bertanggung jawab. Dalam Teori Humanistik memerlukan kerjasama dengan cara pembentukan kelompok-kelompok kecil. Hal ini difungsikaan agar tidak hanya guru yang memanusiakan siswa, tetapi siswa juga menghumanistik teman sepermainan. Pembelajaran menurut Teori Humanistik adalah bagaimana seseorang benar-benar memahami perbedaan siswa, sebagai kelompok yang harus dibimbing dan pentingnya pengembangan potensi di dalam diri.

Teori-teori yang dikemukakan bisa menjadi acuan penyempurna dari waktu ke waktu. Namun penemuan yang lebih mutakhir akan sangat dinanti oleh ramainya pendidikan saat ini. Dengan kata lain pembekalan pada kreativitas, mindset, tingkah laku guru sebagai pendidik lebih diutamakan pemberian ilmu sebagai tantangan siswa.

Salah satu kegagalan dalam pembelajaran disebabkan adanya ketidaktahuan atau memang kesengajaan guru dalam melakukan teror akademik, psikologis dan sosiologis. Guru seringkali mengabaikan tingkatan perkembangan siswa, melupakan kondisi dan latar belakang siswa yang berbeda.

Dari teori di atas dapat disimpulkan bahwa teori pembelajaran menitikberatkan pada pemahaman yang beraplikasi pada tindakan agar sesuai dengan tuntutan masyarakat. Teori baru yang bisa digunakan yaitu pembelajaran yang berorientasi alam (baik sosial, budaya, politik, profesi) dengan cara pemenuhan 100% kebebasan memilih prosedur mana yang bisa dipakai siswa dalam mengembangkan materi. Tentunya guru dituntut untuk lebih kreatif serta tingkat pemahaman, pengembangan materi yang disampaikan tidak sekedar pemenuhan tugas sebagai pendidik, lebih dari itu tetapi hutang mencerdaskan anak didik. Penerapan teori ini diaktifkan pada realita, agar peserta didik menjadi individu yang lulus seleksi dan bisa diterima di lingkungan masyarakat.


sumber http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/10/penemuan-teori-baru-inovasi-pendidikan/